BANJARMASIN, aiqinews7.com — Maliqa Sultan Bakery tak datang ke PAMOR BORNEO 2026 sekadar membawa produk untuk dipajang dan dijual. UMKM asal Kabupaten Tanah Bumbu ini memanfaatkan ajang yang digelar Bank Indonesia di Atrium 1 Duta Mall Banjarmasin, 7–9 Agustus 2026, sebagai pintu masuk untuk menembus pasar yang lebih luas.
Di tengah persaingan produk kuliner yang semakin ketat, kesempatan bertemu langsung dengan konsumen dan pelaku usaha menjadi modal penting bagi Maliqa Sultan Bakery untuk memperkenalkan produknya sekaligus membaca peluang pasar.
Pemilik Maliqa Sultan Bakery, Farida Yulaicha, menilai fasilitasi Bank Indonesia melalui PAMOR BORNEO 2026 memberikan ruang yang sangat berarti bagi UMKM daerah untuk naik kelas.

“Event PAMOR BORNEO ini luar biasa. Kami difasilitasi oleh Bank Indonesia untuk bisa ikut serta dan memperkenalkan produk kami kepada masyarakat,” ujar Farida saat dikonfirmasi, Selasa (11/8/2026).
Bagi Farida, bertemu konsumen secara langsung jauh lebih dari sekadar transaksi. Dari interaksi tersebut, pelaku UMKM dapat mengetahui selera pasar, menerima respons terhadap produk, hingga membuka komunikasi dengan calon mitra bisnis.
“Selain dapat memperkenalkan produk, interaksi langsung tersebut juga membuka peluang mendapatkan pasar dan jaringan usaha baru,” katanya.

Bukan Sekadar Bolen dan Roti, Tapi Strategi Menembus Pasar
Di PAMOR BORNEO 2026, Maliqa Sultan Bakery membawa sejumlah produk andalannya, di antaranya bolen pisang, roti gandum dengan granola, serta roti sourdough yang menggunakan ragi alami.
Produk-produk tersebut menjadi cara Maliqa Sultan Bakery memperkenalkan karakter dan kualitas produknya kepada konsumen yang lebih beragam.

Targetnya jelas: produk yang selama ini berkembang di Tanah Bumbu tidak berhenti berputar di pasar lokal.
Melalui berbagai event seperti PAMOR BORNEO 2026, Maliqa Sultan Bakery berupaya membangun pengenalan merek, memperluas relasi, sekaligus mencari peluang agar produknya bisa menjangkau konsumen di luar daerah.

Farida berharap kesempatan bagi UMKM untuk tampil di ruang-ruang promosi seperti PAMOR BORNEO 2026 terus diperluas. Menurutnya, dukungan semacam ini bukan hanya membantu penjualan, tetapi juga membuka akses pemasaran dan mempertemukan pelaku UMKM dengan jaringan usaha yang lebih besar.
Namun bagi Farida, membesarkan UMKM tidak harus dilakukan dengan saling menjatuhkan.
Ia justru mendorong pelaku usaha untuk membangun ekosistem yang saling mendukung.

“Harapan kami bagaimana menghidupkan UMKM di Kalimantan Selatan. Kita bukan bersaing, tetapi saling merangkul, karena UMKM merupakan bagian dari tulang punggung perekonomian kita,” pungkasnya.
PAMOR BORNEO 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar etalase bagi Maliqa Sultan Bakery.

Dari Tanah Bumbu, ia membawa produk ke pusat keramaian Banjarmasin. Dari transaksi, ia mengejar jaringan. Dari promosi, dan membidik pasar baru.
“Sebab bagi UMKM yang ingin tumbuh, dikenal saja tidak cukup. Pasar harus diperluas, jaringan harus dibangun, dan produk harus berani keluar dari kandangnya,” tutupnya.
50 views